Resiko Pertamina Meningkat Akibat Harga Minyak Dunia dan Nilai Tukar? Bagaimana Jalan Keluarnya?

Avatar photo

- Pewarta

Senin, 13 Mei 2024 - 07:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gedung Pertamina. (Dok. Pertamina.com)

Gedung Pertamina. (Dok. Pertamina.com)

Oleh: Salamuddin Daeng, Peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI)

HARIANINVESTOR.COM – Makin ke sini peringkat utang Pertamina makin bermasalah atau bahasa lainya makin lama resiko keungan makin membesar.

Ini berarti makin lama pertamina akan sulit mendapat utang baru. Kalaupun dapat utang baru maka harus membayar biaya keuangan yang lebih besar.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bukan hanya utang investor pun melihat resiko ini.

Baru baru lembaga pemeringkat yang berkantor di Singapura telah mengafirmasi Peringkat Jangka Panjang Jangka Pendek Issuer Default Rating (IDR) PT Pertamina (Persero) di ‘BBB’ dengan Outlook Stabil.

Peringkat terafirmasi adalah pada program global medium-term note senilai USD20 miliar, dan senior unsecured notes yang ada di ‘BBB’.

Baca artikel lainnya di sini : Ketua BNSP Dukung Penuh Acara Halal Bihalal & Webinar Master Asesor oleh PMAI

Ini utang lumayan besar kalau dirupiahkan mencapai 320 triliun rupiah.

Peringkat Pertamina disamakan dengan peringkat induknya, negara Indonesia (BBB/Stabil), sejalan dengan Kriteria Peringkat Entitas Terkait Pemerintah.

Baca artikel lainnya di sini : Gelar Adat ‘Pangeran Rimbun Alam Cipta Negeri’ Dianugerahkan kepada Wamenaker RI

Jadi sebenarnya semua peringkat ini karena Pertamina ditopang oleh perlindungan atau proteksi dari pemerintah.

Namun Profil Kredit Mandiri (SCP) Pertamina tetap berada di ‘bbb-‘

Ini menang agak gawat walaupun kondisi operasi yang terintegrasi secara vertikal, posisi dominan di pasar energi Indonesia, dan posisi biaya yang kompetitif di segmen bisnis hulu.

Namun, kekuatan ini sebagian dipengaruhi oleh risiko yang berkaitan dengan kontrol harga bahan bakar eceran.

Dan penerimaan kompensasi tepat waktu oleh Pertamina untuk pemulihan yang kurang karena batas harga bahan bakar.

Lalu masalah terbesar Pertamina lainnya datang dari keterlambatan atau penundaan pembayaran kompensasi oleh pemerintah.

Menurut perkiraan kompensasi yang terhutang di pemerintah mencapai 85 % dari total kompensasi sekitar 150 triliun rupiah.

Jadi di saat peringkat utang beresiko saat yang sama uang tidak dicairkan oleh Menteri Keuangan. Jadi sudah jatuh tertimpa tangga.

Sementara utang jangka pendek pertamina senilai 57 triliun rupiah yang harus dipikirkan sumber uangnya.

Ini tidak dapat diatasi seluruhnya oleh cash Pertamina karena perusahaan perlu uang bagi pengadaan BBM, impor solar, LPG dll.

Mungkin disini pemerintah beralasan bahwa seharusnya subsidi kompensasi bisa lebih kecil.

Jika usaha usaha Pertamina maksimal dalam menata solar subsidi, mengurangi kebocoran solar, aksi pengaturan perusahaan agar LPG 3 kg tepat sasaran untuk menekan subsidi.

Demikinan juga usaha perusahaan lebih optimal dalam menekan konsimsi Pertalite.

Jadi menteri keuangan mungkin mengatakan Gue bayar tapi Loe mesti kerja bagus bagi negara. Tapi namamya utang tetap utang harus dibayar.

Masalah terbesar lainnya adalah Pertamina tidak dapat meningkatkan produksi hulu, namun pada saat yang sama diproyeksikan penjualan BBM meningkat.

Jadi ini bukan hanya beban bagi negara karena impor tapi juga beban bagi Pertamina karena masalah harga minyak dunia dan nilai tukar.

Sumber uang satu satunya ke depan datang dari program transisi energi. Tapi apa yang dapat dilakukan?

Bekerjasama dengan PLN bagi transisi energi yang lebih cepat, dimulai dengan elektrifikasi di banyak lini dengan membagi bisnis diantara pertamina dan PLN?

Atau ada usaha lain yang lebih keras untuk transisi energi? Ini masalah keuangan! Coba dipikirkan.***

Sempatkan juga untuk membaca berbagai berita dan informasi lainnya di media online Bisnispost.com dan Mediaagri.com

Sedangkan untuk publikasi press release di media online ini, atau pun serentak di puluhan media lainnya, dapat menghubungi Jasasiaranpers.com.

WhatsApp Center: 085315557788, 087815557788, 08111157788.

Pastikan juga download aplikasi portal berita Hallo.id di Playstore (android) dan Appstore (iphone), untuk mendapatkan aneka artikel yang menarik.

Berita Terkait

Cara Isi Saldo PayPal dari BRI via Jasa Top Up di Epayu (Update 2025)
Saatnya Mencoba Investasi Bisnis Bitcoin yang Kian Ngetren
Investor Mulai Lirik PMUI, Ada Apa di Balik Lonjakan Potensi Sektor Telekomunikasi?
BRI Luncurkan RTT Medan, Perkuat Layanan Treasury di Sumatra
Digitalisasi BRI Dominasi Transaksi, Bank Konvensional Kian Menciut
Hari Tani, BRI Perkuat Dukungan untuk Sektor Pertanian
Pembayaran QRIS di BRImo Makin Fleksibel dengan Kartu Kredit
BRI Salurkan KPRS, Akses Perumahan Subsidi untuk Masyarakat Indonesia

Berita Terkait

Kamis, 4 Desember 2025 - 16:43 WIB

Cara Isi Saldo PayPal dari BRI via Jasa Top Up di Epayu (Update 2025)

Sabtu, 8 November 2025 - 04:39 WIB

Saatnya Mencoba Investasi Bisnis Bitcoin yang Kian Ngetren

Kamis, 23 Oktober 2025 - 15:10 WIB

Investor Mulai Lirik PMUI, Ada Apa di Balik Lonjakan Potensi Sektor Telekomunikasi?

Senin, 29 September 2025 - 14:16 WIB

BRI Luncurkan RTT Medan, Perkuat Layanan Treasury di Sumatra

Sabtu, 27 September 2025 - 12:00 WIB

Digitalisasi BRI Dominasi Transaksi, Bank Konvensional Kian Menciut

Berita Terbaru