Oleh: Surya Rianto, Pengamat pasar modal dan owner Mikirduit.com
HARIANINVESTOR.COM – Saham BREN sudah naik sekitar 32 persen dalam sebulan terakhir hingga 17 Mei 2024.
Bahkan, saham yang dimiliki Prajogo Pangestu itu kembali mengambil tahta saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di IDX melampaui BBCA.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pertanyaannya, apakah saham BREN ini lebih bagus dibandingkan BBCA?
Banyak yang membandingkan dan mempertanyakan, kenapa saham BREN dengan laba bersih di 2023 hanya sekitar Rp1,65 triliun bisa memiliki kapitalisasi pasar.
Yang melampaui saham BBCA yang mencatatkan laba bersih di 2023 hingga Rp48 triliun.
Apakah benar saham BREN sebagus itu?
Baca Juga:
Savaya Group Luncurkan Zumana, Destinasi Tepi Pantai Terbaru di Kawasan Ikonik Pantai Kuta
Debut AiMOGA Intelligent Police Unit R001, Sambut Era Baru dalam Pengaturan Lalu Lintas Cerdas
Persepsi saham bagus dari kenaikan harga atau kapitalisasi pasar ini pernah terjadi juga di Amerika Serikat.
Peter Lynch, investor eks manajer di Magellan Fund milik Fidelity, menuliskan dalam kata pengantar bukunya, One Up on Wall Street.
Ada fenomena ketika investor dan trader menilai bagus atau tidaknya saham dari posisi rendah atau tinggi harganya.
Fenomena itu terjadi pada periode booming perusahaan dotcom atau era internet yang terjadi pada medio 1990-2000.
Baca Juga:
Himel Raih Penghargaan Internasional Berkat Keunggulan Global dan Inovasi Produk
Kala itu, harga saham perusahaan dotcom memang melejit dengan kondisi fundamental belum mencatatkan laba bersih.
Peter Lynch mengaku dirinya tidak tertarik masuk ke saham dotcom kala itu karena tidak paham bisnisnya.
Meski, dia sempat menggunakan Amazon untuk bertransaksi buku kesukaan istrinya pada 1997.
Dia memang menyesal jika melihat saham Amazon mencapai ten bagger (istilah baseball yang menggambarkan bagger berarti keuntungan 100 persen
Sedangkan ten bagger berarti keuntungan 1000 persen) dalam periode setahun.
Namun, alasan dia tidak masuk ke Amazon atau perusahaan dotcom lainnya jelas.
Baca Juga:
Teoxane Luncurkan Akademi Regional Asia Pasifik Pertama di Bangkok
ETO Markets Memperkuat Aspek Kepatuhan Regulasi Setelah Meraih Izin Usaha dari FSC Mauritius
Dia tidak bisa memproyeksikan prospek bisnisnya karena bisa dibilang pola bisnis baru.
Serta kenaikan harga yang terlalu tinggi membuat tingkat risiko saham semakin besar juga jika masuk di level terlalu tinggi.
Lalu, apa hubungannya kisah Peter Lynch tersebut dengan fenomena saham BREN?
Saham BREN bukanlah saham yang buruk secara model bisnis.VREN juga bukan saham disruptif yang bisa menganggu pasar.
BREN hanya saham yang bisnisnya mengelola energi panas bumi. Menariknya, BREN adalah emiten panas bumi terbesar di Indonesia melampaui PGEO.
Meski begitu, bukan berarti saham BREN layak bertengger di atas BBCA. Ada beberapa catatan yang membuat risiko saham BREN sangat tinggi.
Pertama, tingkat debt to equity ratio (DER) per kuartal I/2024 mencapai 4 kali. Artinya, tingkat risiko kredit BREN cukup tinggi.
Kedua, posisi price to earning ratio (PE), yang membandingkan harga saham dengan laba bersih per saham, BREN mencapai 400 kali.
Artinya, harga saham BREN saat ini setara dengan 400 kali dari pencapaian laba bersih perseroan.
Bisa dikatakan, berarti harga saat ini setara dengan prospek laba bersih ratusan tahun kemudian.
Dengan dua fakta itu saja, apakah saham BREN menarik dibeli?
Jika mengutip Peter Lynch yang membahas saham dotcom yang melejit tinggi tanpa ada basis fundamental yang kuat.
Maka saham-saham tersebut sangat berisiko dibeli di harga tinggi.
Soalnya, ada risiko ketika harga saham itu jatuh, maka akan sulit kembali ke harga tertinggi sebelumnya.
Salah satu fenomena besar itu terakhir terjadi di ARTO, yang sempat booming.
Krena diakuisisi konsorsium Patrick Walujo dan Jerry Ng pada akhir 2019 dan disulap menjadi Bank Jago yang bermitra dengan GOTO.
Saat periode bank digital booming di 2021, harga saham ARTO sempat melejit hingga Rp18.000 per saham.
Harga perseroan di level tinggi itu bertahan hingga 2022 sebelum mulai turun di 2023.
Sampai detik ini, saham ARTO bahkan tidak bisa mencapai setengah harga dari level tertinggi sebelumnya.
Penyebabnya, saham itu naik tanpa basis fundamental, tapi berbasis adanya kenaikan daya beli yang tinggi.
Hasilnya, saat daya beli tinggi itu hilang, harga saham akan turun dan sulit mencapai level tinggi sebelumnya.
Berbeda dengan saham yang berbasis fundamental seperti yang terlihat di ACES dan SIDO.
Saham ACES pernah terjun bebas hingga ke Rp400 – Rp500 per saham pada medio 2022-2023.
Hal itu karena kinerja ACES menurun pasca pandemi Covid-19.
Namun, kini saat kinerjanya mulai membaik lagi secara fundamental, saham ACES kembali bangkit ke harga sebelum turun, yakni sekitar Rp845 per saham.
Level tersebut memang bukan yang tertinggi, tapi level yang pernah dicapai ACES pertama kali pada 2017.
Begitu juga dengan SIDO yang harganya sempat turun ke Rp400 – Rp500 per saham akibat tren laba bersih yang terus turun pada akhir 2023.
Namun, saham SIDO mulai kembali ke Rp700-an per saham setelah kinerjanya kembali membaik dan diproyeksikan bisa kembali mencatatkan pertumbuhan.
Dari fenomena ini, kita bisa ambil kesimpulan investasi di saham fundamental bagus bukan berarti dijamin cuan.
Tapi lebih ke fluktuasi harga saham naik-turun lebih stabil sesusai dengan perkembangan fundamental.
Di sisi lain, saham yang naik berbasis adanya anomali daya beli yang terlalu tinggi, ada risiko besar setelah harganya turun akan sulit untuk mencapai level tertinggi sebelumnya.
Soalnya, tidak ada alasan kenapa ada yang mau beli saham tersebut di level yang lebih tinggi.***















