Holding BUMN Farmasi Disebut Profitability Pressure, Begini Penjelasan Direktur Utama PT Bio Farma

Avatar photo

- Pewarta

Rabu, 19 Juni 2024 - 19:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Direktur Utama PT Bio Farma (Persero) Shadiq Akasya. (Dok. Biofarma.go.id)

Direktur Utama PT Bio Farma (Persero) Shadiq Akasya. (Dok. Biofarma.go.id)

HARIANINVESTOR.COM – PT Bio Farma (Persero) sebagai induk dari Holding BUMN Farmasi mengungkapkan bahwa kinerjanya akan mengalami profitability pressure.

Berdasarkan laporan holding BUMN Farmasi (konsolidasi) pada  2023 (unaudited), dari  sisi pendapatan secara umum  mengalami profitability pressure.

Pendapatan diperkirakan menurun dari Rp21,2 triliun pada 2022 menjadi Rp15,2 triliun pada 2023.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

EBITDA juga diperkirakan menurun dari 2022 di mana Rp1,9 triliun pada saat itu menjadi negatif Rp621 miliar pada 2023.

Direktur Utama PT Bio Farma (Persero) Shadiq Akasya menyampaikan hal itu di Jakarta, Rabu (19/6/2024)

Shadiq Akasya menyampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR RI yang dipantau secara daring

“Akibat dari penurunan kinerja Kimia Farma dan Indofarma, serta  normalisasi pendapatan pasca-COVID pada 2019 sampai dengan 2023,” ujar Shadiq Akasya.

Penyumbang terbesar pendapatan diperkirakan masih dari Kimia Farma sebesar Rp9,9 triliun, Bio Farma sebesar Rp5 triliun, dan Indofarma sebesar Rp524 miliar.

Penurunan EBITDA selain karena  penurunan penjualan juga Holding BUMN Farmasi melakukan penyisihan terhadap persediaan yang cukup signifikan atas produk yang saat ini memasuki masa kedaluwarsa.

“Untuk net income dibuka negatif prediksi sampai dengan 2023 masih unaudited sebesar Rp2,2 triliun dari Rp490 miliar pada tahun 2022.”

“Dengan rugi terbesar dari Kimia Farma sekitar Rp1,8 triliun dan Indofarma sebesar Rp605 miliar.”

“Sedangkan Bio Farma masih membukukan laba bersih sekitar Rp304 miliar,” kata Shadiq Akasya.

Menurut dia, laporan keuangan yang disusun saat ini masih bersifat unaudited.

“Laporan keuangan yang kami susun saat ini masih bersifat unaudited, kami masih proses berlangsung dari grup kami juga,” katanya.

Kementerian BUMN RI telah mengesahkan beroperasinya Holding Farmasi di awal  2020, terdiri dari tiga perusahaan BUMN farmasi yaitu Bio Farma sebagai induk holding.

Sahamnya masih dimiliki 100 persen oleh pemerintah, beranggotakan PT Kimia Farma, Tbk dan PT Indofarma, Tbk & pada tahun 2022 PT INUKI (Persero) ditetapkan juga sebagai anggota Holding BUMN Farmasi.

Pembentukan holding farmasi dengan induk holding Bio Farma dan beranggotakan PT Kimia Farma, Tbk, PT Indofarma Tbk dan PT Inuki.

Dilatarbelakangi oleh tren sektor kesehatan global dan penyakit di negara berkembang, yang memerlukan suatu solusi yang lebih menyeluruh bagi konsumen.

Tujuan lain dari pembentukan holding ini adalah untuk menciptakan efisiensi bahan baku, sehingga akan dihasilkan harga obat yang terjangkau.

Yang terpenting dari pembentukan Bio Farma Group, akan menjadi menjadi milestone dalam rangka pembentukan Holding Healthcare di Indonesia, sehingga dari hulu ke hilir dapat dikelola semua dengan baik.***

Sempatkan untuk membaca berbagai berita dan informasi seputar ekonomi dan bisnis lainnya di media Emitentv.com dan Infoesdm.com

Jangan lewatkan juga menyimak berita dan informasi terkini mengenai politik, hukum, dan nasional melalui media 24jamnews.com dan Apakabargrobogan.com

Sedangkan untuk publikasi press release di media ini atau serentak di puluhan media lainnya, klik Rilisbisnis.com (khusus media ekbis) dan Jasasiaranpers.com (media nasional)

WhatsApp Center: 085315557788, 087815557788, 08111157788.

Pastikan download aplikasi portal berita Hallo.id di Playstore (android) dan Appstore (iphone), untuk mendapatkan aneka artikel yang menarik.

Berita Terkait

Meningkat Jadi Rp 89,2 Miliar, Laba Semester I 2025 PT Rig Tenders Indonesia Tbk (RIGS)
Kinerja Solid, BRI Bukukan Laba Rp 26,53 Triliun di Semester I 2025
BUMI Hadapi Laba Anjlok, Investor Global Justru Tambah Saham Emiten Batu Bara Bakrie
FUTR dan Strategi Energi Terbarukan Lippo Bangkitkan Harapan Baru Investor
Buyback Saham Rp 3 Triliun, GoTo Tunjukkan Strategi Profitabilitas Berkelanjutan
Pasar Modal RI Rebound, CSA Index Agustus di Level 82,3
Remala Abadi Perkuat Kepemilikan Saham, Isyaratkan Konsolidasi Digital Nasional
Morris Capital Resmi Masuk, PIPA Bidik Pasar Baru Hingga Asia Pasifik

Berita Terkait

Rabu, 5 November 2025 - 14:34 WIB

Meningkat Jadi Rp 89,2 Miliar, Laba Semester I 2025 PT Rig Tenders Indonesia Tbk (RIGS)

Kamis, 21 Agustus 2025 - 16:40 WIB

Kinerja Solid, BRI Bukukan Laba Rp 26,53 Triliun di Semester I 2025

Selasa, 19 Agustus 2025 - 09:49 WIB

BUMI Hadapi Laba Anjlok, Investor Global Justru Tambah Saham Emiten Batu Bara Bakrie

Kamis, 14 Agustus 2025 - 11:41 WIB

FUTR dan Strategi Energi Terbarukan Lippo Bangkitkan Harapan Baru Investor

Rabu, 13 Agustus 2025 - 15:07 WIB

Buyback Saham Rp 3 Triliun, GoTo Tunjukkan Strategi Profitabilitas Berkelanjutan

Berita Terbaru