Bursa Efek Indonesia Ungkap 7 Tujuan Penerapan Papan Pemantauan Khusus bagi Investor

Avatar photo

- Pewarta

Sabtu, 6 April 2024 - 16:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna. (Dok. Idx.co.id)

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna. (Dok. Idx.co.id)

HARIANIVESTOR.COM – Bursa Efek Indonesia (BEI) mengingatkan tujuan dari penerapan Papan Pemantauan Khusus dalam sistem perdagangan saham di BEI.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna menyampaikan ada 7 tujuan dari penerapan Papan Pemantauan Khusus.

Kepada awak media di Jakarta, Jumat (5/4/2024, Nyoman Yetna menjelaskan, tujuan tersebut, yaitu:

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pertama, untuk meningkatkan perlindungan terhadap investor dengan menempatkan saham-saham yang terkena kriteria tertentu di Papan Pencatatan terpisah.

Sehingga investor memiliki informasi yang cukup sebelum berinvestasi.

Kedua, untuk meningkatkan transaksi dan likuiditas perdagangan khususnya saham dengan frekuensi perdagangan rendah dan harga saham di harga Rp50.

Ketiga, untuk meredam volatilitas dengan pemberlakuan Auto Rejection yang lebih kecil.

Keempat, menerapkan best practice dan common standard yang ada di bursa lain.

Kemudian, kelima, memberikan kesempatan kepada investor untuk melakukan transaksi sebelum saham dikenakan suspensi dan/atau delisting.

Keenam, untuk meningkatkan transparansi atas kondisi perusahaan tercatat.

Ketujuh, untuk meminimalisir manipulasi harga dan proses price discovery yang lebih sesuai untuk saham dengan likuiditas rendah dengan perdagangan secara Periodic Call Auction.

BEI telah mengimplementasikan Papan Pemantauan Khusus tahap II atau Full Periodic Call Auction mulai Senin, 25 Maret 2024, dan terdapat 11 kriteria saham yang masuk dalam Papan Pemantauan Khusus, yaitu:

1. Harga rata-rata saham selama 6 bulan terakhir di Pasar Reguler dan/atau Pasar Reguler Periodic Call Auction kurang dari Rp51,00.

2. Laporan Keuangan Auditan terakhir mendapatkan opini tidak menyatakan pendapat (disclaimer).

3. Tidak membukukan pendapatan atau tidak terdapat perubahan pendapatan pada Laporan Keuangan Auditan dan/atau Laporan Keuangan Interim terakhir dibandingkan dengan laporan keuangan yang disampaikan sebelumnya.

4. Perusahaan tambang minerba yang belum memperoleh pendapatan dari core business hingga tahun buku ke-4 sejak tercatat di Bursa.

5. Memiliki ekuitas negatif pada laporan Keuangan terakhir.

6. Tidak memenuhi persyaratan untuk tetap dapat tercatat di Bursa sebagaimana diatur Peraturan Nomor I-A dan I-V (public float).

7. Memiliki likuiditas rendah dengan kriteria nilai transaksi rata-rata harian saham kurang dari Rp5.000.000,00 dan volume transaksi rata-rata harian saham kurang dari 10.000 saham selama 6 bulan terakhir di Pasar Reguler dan/atau Pasar Reguler Periodic Call Auction.

8. Perusahaan Tercatat dalam kondisi dimohonkan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU), pailit, atau pembatalan perdamaian.

9. Anak perusahaan yang kontribusi pendapatannya material, dalam kondisi dimohonkan PKPU, pailit, atau pembatalan perdamaian.

10. Dikenakan penghentian sementara perdagangan Efek selama lebih dari 1 hari bursa yang disebabkan oleh aktivitas perdagangan.

11. Kondisi lain yang ditetapkan oleh Bursa setelah memperoleh persetujuan atau perintah dari Otoritas Jasa Keuangan.***

Berita Terkait

Meningkat Jadi Rp 89,2 Miliar, Laba Semester I 2025 PT Rig Tenders Indonesia Tbk (RIGS)
Kinerja Solid, BRI Bukukan Laba Rp 26,53 Triliun di Semester I 2025
Di Balik Sanksi BEI: Upaya Kolektif Tingkatkan Transparansi Pasar Modal
BUMI Hadapi Laba Anjlok, Investor Global Justru Tambah Saham Emiten Batu Bara Bakrie
FUTR dan Strategi Energi Terbarukan Lippo Bangkitkan Harapan Baru Investor
Buyback Saham Rp 3 Triliun, GoTo Tunjukkan Strategi Profitabilitas Berkelanjutan
Pasar Modal RI Rebound, CSA Index Agustus di Level 82,3
Remala Abadi Perkuat Kepemilikan Saham, Isyaratkan Konsolidasi Digital Nasional

Berita Terkait

Rabu, 5 November 2025 - 14:34 WIB

Meningkat Jadi Rp 89,2 Miliar, Laba Semester I 2025 PT Rig Tenders Indonesia Tbk (RIGS)

Kamis, 21 Agustus 2025 - 16:40 WIB

Kinerja Solid, BRI Bukukan Laba Rp 26,53 Triliun di Semester I 2025

Rabu, 20 Agustus 2025 - 09:55 WIB

Di Balik Sanksi BEI: Upaya Kolektif Tingkatkan Transparansi Pasar Modal

Selasa, 19 Agustus 2025 - 09:49 WIB

BUMI Hadapi Laba Anjlok, Investor Global Justru Tambah Saham Emiten Batu Bara Bakrie

Kamis, 14 Agustus 2025 - 11:41 WIB

FUTR dan Strategi Energi Terbarukan Lippo Bangkitkan Harapan Baru Investor

Berita Terbaru