LAYAR di Bursa Efek Indonesia memantulkan angka merah, seolah menjadi cermin dari kecemasan kolektif para pelaku pasar yang terpaku pada grafik menurun.
saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) meluncur ke bawah Rp8.000, sebuah level psikologis yang sebelumnya hanya diprediksi oleh analis, namun kini nyata menghantam pasar.
Senin, 1 September, harga BBCA merosot 1,55 persen di awal sesi menuju Rp7.950, bahkan sempat menyentuh rentang Rp7.600–Rp7.975, diiringi volume transaksi tinggi dan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang terkoreksi tiga persen.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kapitalisasi pasar BBCA terpangkas menjadi sekitar Rp973,6 triliun, sementara data bursa mencatat tekanan jual asing kian deras, dengan net sell mencapai Rp1,12 triliun di akhir Agustus.
Sentimen BLBI dan Obligasi Rekap Jadi Bayangan Berat
Menurut pengamat pasar modal, Fauzan Luthsa, penurunan BBCA sejatinya bukan kejutan, melainkan babak yang sudah ia ramalkan sejak lama ketika isu BLBI kembali menyeruak.
“Beberapa waktu lalu saya sudah memperkirakan saham BBCA bisa bergerak ke level Rp8.000, bukan semata angka, tapi karena konteks politik-ekonomi yang membayangi sentimen investor,” kata Fauzan.
Baca Juga:
Rekomendasi Reksadana Saham bagi Investor Aktif di Aplikasi Reksadana
SEG Solar Mulai Bangun Pabrik Ingot dan Wafer Berkapasitas 3 GW di Indonesia
Ia menegaskan fundamental bank masih kokoh, mulai dari laba stabil, likuiditas kuat, hingga kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) yang rendah.
Tetapi pasar modal seringkali tunduk pada persepsi, bukan semata data laporan keuangan.
“Selama isu BLBI dan obligasi rekap tidak selesai dengan audit terbuka atau kepastian politik, tekanan harga sangat mungkin berlanjut, fundamental saja tidak cukup menahan guncangan,” ujarnya.
Investor Asing Menjual, Pasar Domestik Ikut Guncang
Data bursa memperlihatkan tekanan jual asing masih dominan, seolah menandai berkurangnya kepercayaan jangka pendek terhadap bank swasta terbesar di Indonesia ini.
Baca Juga:
Asossiasi Investor Relations Hadir Siap Tingkatkan Profesional IR.
Resmi Dibuka, Astra Auto Fest 2025 Semarak Beragam Promo dari Grup Astra
Cara Isi Saldo PayPal dari BRI via Jasa Top Up di Epayu (Update 2025)
Namun Fauzan mengingatkan, penurunan harga BBCA tidak bisa semata-mata disalahkan pada aksi net sell asing, karena biasanya pasar domestik mampu menyerap tekanan itu.
“Kali ini berbeda, karena ada isu besar yang menyentuh memori publik soal bailout, faktor psikologis ini memperberat tekanan harga, membuat pasar domestik lebih sensitif,” jelasnya.
Menurut dia, investor dalam negeri kini tidak hanya membaca angka, tetapi juga menimbang narasi politik-ekonomi yang belum tuntas, sehingga isu lama kembali bergaung di lantai bursa.
Fundamental Bank Masih Solid Namun Kepercayaan Rapuh
Ironisnya, di tengah turbulensi harga saham, kinerja fundamental BBCA sejatinya tetap solid, dengan laporan laba, permodalan, dan likuiditas berada pada jalur yang sehat.
Namun Fauzan menilai kekuatan fundamental itu tidak cukup untuk menenangkan investor yang lebih dulu terseret arus ketidakpastian politik dan bayang-bayang sejarah BLBI.
“Pasar bereaksi terhadap persepsi dan tidak akan menunggu laporan keuangan pulih, selama ada isu besar yang belum dijawab dengan transparansi,” ucap Fauzan.
Baca Juga:
Kisah BBCA di bawah Rp8.000 bukan sekadar soal grafik yang menurun, melainkan juga drama panjang hubungan antara pasar modal, ingatan publik, dan narasi politik yang tak kunjung usai.
Pasar Masih Menebak, Pemerintah Ditunggu Bicara Terbuka
Dalam analisis Fauzan, selama pemerintah belum berani bicara transparan tentang obligasi rekap dan BLBI, spekulasi pasar akan terus hidup, menekan harga saham bank besar.
“Pelemahan saham BBCA tidak bisa hanya dijelaskan oleh aksi jual asing, ini soal kepercayaan yang terganggu oleh sejarah panjang bailout,” katanya.
Dengan kata lain, investor kini menunggu bukan hanya angka di laporan keuangan, melainkan juga pernyataan politik yang jelas, audit terbuka, dan keberanian menghadapi warisan masa lalu.
Hingga saat itu tiba, lantai bursa akan tetap dipenuhi tanya, grafik akan tetap berliku, dan saham BBCA mungkin terus menjadi medan tarik menarik antara fundamental dan persepsi.****
Sempatkan untuk membaca berbagai berita dan informasi seputar ekonomi dan bisnis lainnya di media Infobumn.com dan Bisnisnews.com.
Simak juga berita dan informasi terkini mengenai politik, hukum, dan nasional melalui media Adilmakmur.co.id dan Hallokampus.com.
Informasi nasional dari pers daerah dapat dimonitor langsumg dari portal berita Nusraraya.com dan Jakartaoke.com.
Untuk mengikuti perkembangan berita nasional, bisinis dan internasional dalam bahasa Inggris, silahkan simak portal berita Indo24hours.com dan 01post.com.
Pastikan juga download aplikasi Hallo.id di Playstore (Android) dan Appstore (iphone), untuk mendapatkan aneka artikel yang menarik. Media Hallo.id dapat diakses melalui Google News. Terima kasih.
Kami juga melayani Jasa Siaran Pers atau publikasi press release di lebih dari 175an media, silahkan klik Persrilis.com
Sedangkan untuk publikasi press release serentak di media mainstream (media arus utama) atau Tier Pertama, silahkan klik Publikasi Media Mainstream.
Indonesia Media Circle (IMC) juga melayani kebutuhan untuk bulk order publications (ribuan link publikasi press release) untuk manajemen reputasi: kampanye, pemulihan nama baik, atau kepentingan lainnya.
Untuk informasi, dapat menghubungi WhatsApp Center Pusat Siaran Pers Indonesia (PSPI): 085315557788, 087815557788.
Dapatkan beragam berita dan informasi terkini dari berbagai portal berita melalui saluran WhatsApp Sapulangit Media Center











